Kamis, 06 September 2012

Aku Diperkosa 3 Lelaki Bejat


Aku masih berdiri menunggu taksi di sebuah halte. Orang-orang ramai berteduh di halte ini. Karena memang hujan sangat lebat mengguyur Jakarta malam ini. Aku Dea (nama samara), seorang karayawati di sebuah perusahaan swasta di ibukota. Sudah tiga tahun aku bekerja di perusahaan itu. Gaji yang cukup besar dan suasana di kantor yang membuat aku betah disana. Suasana kekeluargaan yang sangat kental.
Hujan makin lebat. Dan kakiku sudah mulai pegal berdiri menunggu taksi. Tak satu pun taksi yang lewat. Satu persatu orang yang berteduh pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya, menembus derasnya hujan. Aku tak ingin berdesak-desakkan di bus kota. Selain tak nyaman dan kurangnya keamanan di dalam bus itulah yang membuat aku memilih taksi. Copet. Apalagi yang kadang membuat kita tak ingin naik bus kota.
Tinggallah aku bertiga dengan seorang bapak gemuk dengan tas besar dan seorang ibu yang masih berdiri di halte. Warung kecil yang menjual rokok dan minuman masih menerangi halte tempatku berteduh. Sudah dua puluh menit lebih aku berdiri menunggu taksi. Setiap kulambaikan tangan memanggil taksi, mereka hanya berlalu begitu saja. Sial sekali aku malam ini. Jam tanganku menunjukkan pukul 19.10 wib.

“mau pulang kemana mbak?” tanya bapak bertubuh gemuk.
“ke manggarai pak” jawabku.
“kenapa nggak naik bus aja mbak. Dari tadi kan banyak juga yang kosong”
“iya pak. Saya agak kapok naik bus”
“kenapa?” bapak itu bertanya kembali.
“pernah dua kali saya kecopetan”
“oh itu. Iyalah mbak, harus hati-hati kalo di bus kota”

Kemudian tak ada pertanyaan lagi yang keluar dari mulut bapak bertubuh gemuk. Ibu yang sedang diam memberhentikan sebuah taksi, dan ia mendapatkan taksi tersebut. Ah, sial sekali aku. Seharusnya aku yang menaiki taksi tersebut. Aku ingin cepat sampai kamar kost-ku. Badanku sangat letih hari ini. Selain menumpuknya pekerjaanku di kantor, aku juga harus kunjungan ke beberapa perusahaan. Untungnya besok hari sabtu, jadi aku bisa beristirahat lebih lama. Lamunanku buyar ketika sebuah mobil menepi ke halte tempatku berteduh. Seseorang keluar menuju warung kecil samping halte. Pria tersebut membeli sebungkus rokok. Dan kembali menuju mobil. Namun…
“Dea ya?” pria tersebut menegurku. Aku tidak mengenalinya.
“iya. Maaf siapa ya?” tanyaku.
“gue Tito (nama samara). Bulan lalu kan kita meeting bareng di Kemang. Inget nggak?” tanyanya.
“emmmm.. yang mana ya?” tanyaku masih meraba-raba.
“masa nggak inget sih? Kan yang presentasi gue”
“ooh iya gue inget. Bos lo yang orang cina itu kan?” aku mulai mengingatnya.
“hahahahahahaha. Iya iya. Bos gue emang orang cina. By the way, ngapain lo disini?”
“gue nunggu taksi. Dari tadi nggak dapet-dapet. Udah hampir setengah jam gue disini” jelasku.
“oh gitu. Ikut mobil gue aja yuk. Daripada kelamaan, nanti makin malem makin bahaya lho. Apalagi lo cewek sendiri disini”
“emmm.. gimana ya?”
“ayolah, gue sih terserah lo aja. Gue cuma niat baik aja sama lo”
Betul juga pikirku. Aku wanita sendiri yang berada di halte ini. Makin malam memang makin tak baik. Apalagi saat ini Jakarta sudah tak aman menurutku.
“boleh deh. Nggak ngerepotin lo nih?”
“ngerepotin apa sih? Santai aja kali. Yuk masuk!” ajak Tito.

Ternyata didalam mobil ada dua pria lainnya. Teman tongkrongan Tito. Aku berkenalan dengan mereka. Abi (nama samaran) dan Kris (nama samaran). Mereka bertiga berniat makan malam di sebuah restoran di daerah Salemba. Satu arah dengan rute pulang denganku. Aku bisa turun di Manggarai nantinya. Kami hanya mengobrol biasa, tentang kantor tempat Tito bekerja sampai kelakuan bosnya yang kadang membuatnya geram.
“lo ikut kita aja De!” ajak Tito.
“ah, nggak usah deh. Gue mau langsung pulang aja To”
“iya De ikut aja. Kita mau ngerayain ultahnya si Abi. Ikut aja!” ajak Kris.
“nggak deh, makasih. Itu kan acara kalian. Nanti kalo ada gue malah nggak seru lagi”
“nggak seru apaan sih? Biasa aja kali De. Ikut aja ya” Tito sedikit memaksa.
“iya ikut aja. Nanti juga ada temen cewek yang lain juga kok De. Jadi lo nggak sendirian” sambung Abi.
“emmm.. gimana ya?” aku masih berpikir.
Sebenarnya aku ingin sekali cepat pulang ke kost-an. Tapi berhubung mereka sudah berbaik hati memberiku tumpangan. Apa jadinya kalau aku tak bertemu Tito. Mungkin saat ini aku masih berada di halte dengan bapak gemuk. Jadi kuiyakan saja ajakan mereka. Toh hanya makan-makan biasa, apa salahnya agak telat sampai kost-an. Lagipula besok hari sabtu.
“oke deh, gue ikut. Tapi bener nggak ganggu acara kalian kan?”
“dijamin nggak ganggu 100%” sergah Abi.

Tak berapa lama mobil sudah terparkir disebuah bangunan bernuansa cina. Dengan dua patung besar berbentuk singa didepannya. Seorang pelayan pria bertubuh tegap membukakan pintu dan mempersilakan masuk. Kami menaiki tangga menuju lantai dua. Lampu didalam ruangan agak remang-remang. Kami pun memasuki sebuah ruangan, seperti private room. Terdapat meja besar dengan sofa yang besar pula mengelilingi meja. Didepannya terdapat layar besar. Kalau kuperhatikan, ruangan ini mirip seperti ruangan karouke. Kami duduk di sofa besar. Tak lama seorang wanita dengan pakaian cukup seksi masuk membawa buku besar.

“mau pesen apa De?” tanya Tito.
“kita makannya disini?” tanyaku.
“iya. Sambil makan kita bisa sambil karouke. Bisa nonton film juga. Bisa party juga. Lo mau pesen makan apa?” jelas Tito.
“hmmm.. apa ya? Gue ikut aja deh” jawabku.
“kok ikut aja? Nih, lo liat dulu” Tito menyerahkan buku besar yang ternyata buku menu.
Aku membuka halaman demi halaman buku menu. Dan tak satu pun yang kukenal macam-macam makanannya. Paling hanya beef steak dan bebek peking. Mungkin ini restoran cina. Jadi kuputuskan untuk memesan beef steak dan segelas orange juice. Sedangkan Tito, memesan makanan yang tak kuhapal namanya. Begitu juga Abi dan Kris. Setelah pesanan kami di catat, wanita seksi itu pun meninggalkan ruangan.
“kita nyanyi-nyanyi dulu kali ya. Sambil nunggu makanan” kata Kris.
“boleh. Nyalain aja Kris” lanjut Abi.
“eh, katanya ada temen-temen cewek lo yang lain?” tanyaku kepada Tito.
“iya, bentar lagi mungkin sampe. Kenapa sih De?” jawab Tito.
“nggak apa-apa kok. Gue Cuma tanya aja”
Kris yang paling ngocol diantara mereka bertiga sudah teriak-teriak melantunkan lagu. Otakku dangkal kalau ditanya musik. Aku hanya menikmati suasana. Sesekali tertawa jika Kris melontarkan leluconnya yang membuat perut sakit. Tak lama, pesanan kami datang. Beef steak-ku dan makanan lainnya sudah terhampar di meja besar. Meja ini sudah dipenuhi makanan dan beberapa botol minuman. Menurutku hal seperti ini tidaklah tabu. Di kantorku pun minuman beralkohol dan sejenisnya seringkali disediakan, jika kantor mendapat tender besar dan harus dirayakan. Aku pun kadang ikut menenggak beberapa loki minuman.

Kami pun menikmati makanan. Saling berbagi makanan. Saling cicip-mencicipi makanan. Seolah sudah kenal bertahun-tahun, aku pun tak canggung lagi dengan ketiga pria tersebut. Disela-sela makan, Kris masih saja membuat kelucuan. Hingga membuat Abi tertawa sampai terbatuk-batuk. Ruangan ini memang milik kami. Kami bebas tertawa terbahak-bahak dan tak ada seorang pun yang protes. Lama kami bersenang-senang di ruangan tersebut. Belasan lagu telah kami nyanyikan. Piring kotor bekas kami makan pun telah diangkat. Yang tersisa di meja hanya botol-botol minuman den beberapa gelas. Seorang pelayan kembali datang mengantarkan dua botol minuman dan empat piring kacang.
“eh, nambah nih?” tanyaku.
“malem masih panjang De. Santai aja kan?” tanya Abi.
“iya sih”

Aku sudah menghabiskan empat gelas minuman beralkohol. Kepalaku sudah dihantui pusing. Berat. Tubuhku pun sudah agak lunglai. Tapi kami masih tertawa dan terus menuang minuman kedalam gelas. Tito terus memberiku gelas yang penuh. Walau kutolak, ia tetap memaksaku. Dan akhirnya, mau tak mau aku pun terus meneggak minuman tersebut. Puncaknya, tubuhku sudah benar-benar lunglai. Lemah tak berdaya. Kepalaku sudah berat. Aku setengah sadar. Aku bersandar pada sofa besar. Masih memperhatikan layar besar didepan meja yang memutar video karouke. Disampingku, duduk Tito memegang gelas penuh berisi minuman.
Tito mulai merangkul pundakku. Aku menepisnya. Jujur, aku mabuk. Namun aku masih sadar. Setengah sadar tepatnya. Ia terus mencekokiku minuman. Dan aku tetap mengangguk menerimanya.
“kalo pusing. Tiduran aja De” suruh Tito.
“nggak apa-apa nih kalo gue tiduran disini?” tanyaku.
“enggak apa-apa. Ini di booking sampe pagi kok” jawab Tito.
Tak apalah aku merebahkan sesaat tubuhku. Nantinya juga akan dibangunkan jika acara mereka sudah selesai. Tapi Tito memberikan segelas minuman, begitu ingin kurebahkan tubuhku.
eits, minuman terakhir sebelum lo tidur. Wajib lo habisin. Ayolah”
“To, kepala gue udah pusing banget. Udah ya”
“gelas terakhir De. Biar sisa minuman yang lain gue habisin bertiga. Oke”
Aku pun menurut saja. Kutenggak isi gelas dengan cepat. Habis tak bersisa. Kemudian senyuman Tito terpancar dari mulutnya. Aku pun akhirnya merebahkan tubuhku. Kepalaku terasa pusing. Lalu aku tertidur…

Berapa lama kutertidur? Kepalaku masih berat. Otakku pun masih setengah sadar. Badanku panas. Apa yang terjadi? Kubuka perlahan mataku. Astaga, kaget bukan main. Aku mendapati tubuhku tak berbusana. Dan kulihat Abi sedang asik melumat puting payudaraku. Aku ingin berontak. Namun tubuhku sangat lemas. Aku ingin teriak, namun mulutku seperti terkunci.
“eh, Dea udah bangun” kata Abi disela-sela lumatan mulutnya.
Kris lalu mendekatiku. Menghampiri wajahnya dekat kearah wajahku. Bibirku dilumat Kris. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Tubuhku tak bisa bergerak. Kurasakan payudaraku diremas kuat. Putingku kembali dilumat. Geli. Kris pun nampak tak berbusana. Pandanganku kabur. Mataku buram. Kris masih terus melumat bibirku. Kemudian ia berdiri, menunjukkan penisnya yang besar. Tegang dan berurat. Mulutku dibuka lebar olehnya. Dimasukkannya penis besarnya kedalam mulutku. Aku hampir tersedak. Maju mundur gerakan penis Kris didalam mulutku.

Putingku masih dijilat. Payudaraku masih terasa diremas. Namun apa ini? Astaga, kini giliran vaginaku yang merasakan gerakan aneh. Kenapa tubuhku tak bisa kugerakkan. Ingin kuberontak. Tenagaku tak ada. Mataku melirik kearah vaginaku. Tito yang sedang asik menjilati klitorisku. Lidahnya lincah bermain. Nikmat, namun aku tak ingin semua ini. Tubuhku bergetar, sungguh nikmat permainan lidah Tito. Abi pun sungguh lihai memainkan lidahnya, putingku nikmat. Geli yang sangat geli. Kris masih asik memanjakan penisnya di mulutku.
Kini mereka bergantian. Tito, kali ini memasukkan penisnya kedalam mulutku. Kris menggarap payudarku. Diremas dan dijilati. Sementara Abi dengan penis tegangnya, menuju vaginaku. Pahaku dibuka lebar-lebar. Dengan posisi mengangkang, Abi membenamkan penis besarnya kedalam vaginaku. Perlahan-lahan bergerak maju mundur. Vaginaku bergetar. Penisnya Tito masih didalam mulutku. Terkadang suara desahan Abi kudengar.

“aaaahhh..aaaahhh” desahan Abi, sesekali menampar-nampar pelan pantatku. Perih.
“aaaahhh..aaaahhh” Tito pun tak kalah dengan Abi.
Gerakan penis Abi makin cepat. Aku hampir klimaks. Vaginaku bergetar hebat, tak berapa lama cairan membasahi vaginaku. Hangat. Aku klimaks. Tubuhku ikut bergetar. Bulu romaku berdiri.
“aaaaahhh..aaaaahh” desahan Abi makin keras, disertai gerakan maju mundur penisnya yang makin cepat.

Kemudian ia mencabut penisnya. Memuntahkan cairan maninya diatas payudaraku. Hangat. Kental. Ia terus memompa cairan maninya hingga habis. Kris masih asik memeras payudarku yang banjir oleh cairan mani Abi. Dan Tito masih dengan penis menancap dalam mulutku. Kemudian kudengar tawa senang dari Abi. Laki-laki berengsek!
Tubuhku masih tak bisa digerakkan. Mungkin mereka memberiku sesuatu. Mungkin obat atau apalah. Yang jelas malam ini aku diperkosa oleh tiga orang lelaki bejat yang baru kukenal beberapa jam yang lalu.
Kali ini giliran Kris menggagahiku. Kepala penisnya diusap-usap dimulut vaginaku. Geli. Kemudian dengan segera ia lesakkan seluruh batang penisnya. Kali ini lebih besar. Penis Kris lebih besar dari penis Abi. Mataku terbelalak. Dadaku sesak. Tubuhku tak bisa bergerak. Aku tersedak. Kris memainkan penisnya maju mundur. Pahaku dibentangkan lebar. Sambil terus penisnya menari didalam vaginaku, sesekali Kris memainkan jarinya menggelitik klitorisku. Nikmat. Aku menikmati permainan Kris. Keringat Kris terlihat membasahi jidat lengangnya. Tangan besar penuh urat mencengkram kuat payudaraku. Meremasnya. Memainkan jari-jarinya pada putingku.

“aaaahhh..Deaaa aaaaahhh..Dea..” Kris mendesah pelan.

Ia menindih tubuhku. Merebahkan tubuhnya yang tinggi diatas tubuhku. Tangannya melingkar di pinggangku, memelukku kuat. Sambil terus menggoyangkan penisnya. Penis besarnya masih menancap didalam vaginaku. Sesekali dengan tempo yang cepat, Kris terus menggoyangkan pinggulnya. Vaginaku panas.

“aaaaaahhh.. Deaaaa” desahannya memanggil namaku. Dasar bajingan.

Tak dipungkiri, aku menikmati saat Kris memainkan penisnya. Ia sangatlah ahli. Tubuhku makin merasakan nikmat. Bulu romaku kembali berdiri. Vaginaku memberi sinyal, sebentar lagi aku hendak klimaks. Klimaks yang kedua, setelah Abi terlebih dahulu menggagahiku. Dan, tak berapa lama aku kembali klimaks. Vaginaku kembali banjir. Cairan hangat memenuhi relung vaginaku. Kris masih terus dengan gerakan maju mundur. Penis besarnya masih setia di dalam vaginaku. Desahannya kali ini lebih sering.
“aaaaaahhh..aaaaahhh”
“aaaaahhh..Deaaaa aaaaahhh”

Kris mencabut penis besarnya. Memuntahkan cairan maninya di mulutku. Jijik. Sangat banyak dan kental. Berwarna putih. Dalam sekejap mulutku dipenuhi cairan mani Kris. Ia terlihat letih setelah menggagahiku. Letih namun nikmat. Dan kembali kudengat tawa lepas, kali ini Kris dan Abi yang tertawa. Disusul tawa dari Tito. Astaga, tubuhku masih saja tak bisa digerakkan. Kali ini makin lemas. Tenagaku habis tak bersisa, setelah dua lelaki bajingan memperkosaku. Memberiku minuman yang membuat tubuhku tak bisa digerakkan.
Tito sudah pada posisi. Penis panjangnya sudah berada didepan vaginaku. Tangannya menuntun penisnya masuk kedalam vaginaku. Dengan cepat ia menggenjot pinggulnya. Gerakannya lincah. Ia terus membenamkan penis panjangnya kedalam vaginaku, smbil meremas payudaraku. Menggelitik putingku. Makin cepat gerakan Tito. Vaginaku ikut bergetar cepat. Kali ini mulutnya yang memainkan putingku. Dijilatinya putingku. Sesekali digigit-gigit. Membuat gairahku meninggi. Kemudian menyedotnya kuat. Aku makin bernafsu. Namun tubuhku masih tak dapat digerakkan. Tangannya meremas payudaraku, lidahnya menjilati putingku, dan penisnya masih keluar masuk kedalam vaginaku. Gairahku memuncak.

Tito masih terus menggagahiku. Dan masih terus meremas payudaraku. Vaginaku kembali bergetar. Akan klimaks untuk yang ketiga kalinya mungkin. Mataku memejam. Tanganku mencengkram kuat sofa. Pahaku masih terbuka lebar. Membentang. Dan Tito masih terus menggoyangkan pinggulnya. Kali ini makin cepat. Aku hampir klimaks. Benar saja, tak berapa lama vaginaku memuntahkan cairan hangat. Tubuhku bergetar hebat. Vaginaku geli. Dan Tito terus saja menggagahiku. Penisnya masih kuat bermain-main didalam vaginaku.
Tito mencabut cepat penisnya. Memuntahkan cairan maninya diatas payudaraku. Cukup banyak. Memompa terus penisnya, berharap cairan maninya keluar hingga tetes terakhir. Pahaku masih terbuka lebar. Dan tubuhku masih tak dapat digerakkan. Kris membersihkan cairan mani yang memenuhi tubuh dan mulutku. Dibantu oleh Abi. Tito mengenakan pakaiannya. Aku menangis sejadi-jadinya. Pipiku basah oleh air mata. Kemudian Kris dan Abi berpakaian. Tito memakaikan kemeja dan celanaku. Dan tubuhku masih saja tak bisa bergerak.

Abi melemparkan berlembar-lembar uang pecahan seratus ribu diatas tubuhku. Kemudian mereka bertiga berlalu. Meninggalkanku dengan tawa puas usai memperkosa diriku. Tinggallah aku sendiri didalam ruangan dengan tubuh yang tak bisa kugerakkan. Dasar lelaki bajingan !!!


follow kita di @kilas17plus 
yang mau berbagi cerita email kita ke baesembarang@gmail.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar